Zuhud Kepada Duniawi
Tahukah anda apa yang dimaksud dengan
zuhud? Di zaman modern ini, dengan segala efek globalisasi yang menimpa bangsa
ini, sulit rasanya menemukan orang yang benar-benar zuhud kepada duniawi.
Kesederhanaan Rasulullah adalah salah
satu aspek yang harus kita ikuti. Beliau tidak tergila-gila dengan kekayaan dan
harta, karena beliau sadar bahwa hidup di dunia tidaklah lama, hidup di dunia
hanya sementara.
Allah berfirman dalam surat
Al-Kahf ayat 46:
Yang artinya: “Harta dan
anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia. Tetapi amal kebajikan yang terus-menerus
adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu, serta ebih baik untuk menjadi
harapan.”
Zuhud bukan berarti miskin, akan tetapi
merasa cukup dengan kelebihan yang dibberikan oleh Allah. Hidup sederhana di
zaman modern berarti dapat memerangi serangan efek buruk globalisasi. Berkeyakinan bahwa merasa cukup dengan harta
yang didapatkan secara halal.
Jika sifat zuhud pada duniawi dapat kita
terapkan dalam kehidupan, maka kasus korupsi di negeri ini dapat diminimalisir,
karena pada dasarnya koruptor tercipta oleh kerakusan terhadap materi.
Dalam buku “wanita-wanita yang
dirindukan surga” karya Dr Mustafa Murad menerangkan bahwa ketika Rasulullah
isra mi’raj ke langit, Rasulullah mendengar
suara langkah berjalan . Lalu Rasulullah bertanya, siapa ini? Mereka penduduk
langit menjawab, ‘ini adalah al-Ghumaishaa binti Malhan.
Tahukah anda siapa al-Ghumaishaa
itu?
Al-Ghumaishaa adalah Muslimah
yang bermahar Islam. Al-Ghumaishaa tidak meminta emas ataupun permata untuk
dijadikan mahar.
Diharapkan, kita dapat mengambil
kesimpulan bahwa dunia adalah perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan adalah
wanita shalehah.
Sahabat pernah bertanya kepada
Rasulullah: “ya Rasulullah… siapa yang paling tinggi derajatnya ? bidadari surga
atau wanita mukmin yang shalehah?” Rasulullah menjawab : “ sesungguhnya wanita
mukmin yang shalehah lebih tinggi derajatnya daripada bidadari surga”.
Kemudian para sahabat bertanya
kembali: “ Dengan apa para wanita mukmin shalehah dapat dikatakan begitu? Kemudian
Rasulullah menjaawab:” Karena wanita mukmin shalehah melaksanakan shalat,
puasa, dan berhaji. Sedangkan bidadari tidak”.
Dikatakan bahwa wanita dunia lebih utama
tujuh puluh kali lipat daripada bidadari. Ibnu al-mubarak menuturkan dari
Rusyid, dari Ibnu An’am dari Hibban bin abi jabalah, ia berkata, “ sesungguhnya
wanita dunia yang masuk surga diutamakan daripada bidadari karena amal
perbuatannya di dunia.”
Para wanita beriman melebihi para
bidadari dalam kecantikan, keindahan, dan akhlak. Oleh karena itu wanita beriman
mendapat kedudukan lebih tinggi dibanding para bidadari surga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar