Senin, 05 Oktober 2015

HIJAUKAN BUMI DENGAN AKSI



 HIJAUKAN BUMI DENGAN AKSI



Maraknya penebangan hutan yang terjadi akhir-akhir ini dikawasan Nusantara menimbulkan berbagai dampak buruk bagi kehidupan. Salah satu kasus yang menghawatirkan adalah kabut asap yang melanda kawasan Palembang, Pekanbaru, Batam dan sekitarnya. Selain itu, kawasan Kalimantan pun tak luput menjadi “sasaran” ulah keserakahan manusia dan tangan-tangan jahil yang hanya mementingkan Rupiah tanpa memperdulikan efek buruk atas tindakannya itu.

Tak hanya menimbulkan efek negatif  bagi kesehatan orang yang menghirup udara yang terkena polusi asap, kejadian ini juga menimbulkan terkikisnya lapisan ozon dan atmosfer bumi. Salah satu antisipasi sederhana untuk mengatasi hal ini adalah  dengan membuat hujan buatan yang dialirkan oleh pesawat. Namun hal ini tentu memerlukan biaya yang cukup besar. Menurut salah satu berita yang dilansir oleh salah satu media, sebagian warga mengatasi efek buruk pencemaran udara yang ditimbulkan oleh kabut asap dengan cara menaruh air dalam bejana atau ember yang besar. Namun tentu saja hal ini belum efektif.

Pemerintah seharusnya bertindak  lebih cepat dan tanggap untuk mengatasi persoalan ini. Jika dibiarkan terus-menerus maka kejadian buruk ini akan meluas ke berbagai penjuru wilayah di Nusantara. Terlihat sederhana, tapi tahukah bahwa bumi menjerit, bumi kesakitan, dan bumi memerlukan perhatian.
Apakah hal buruk yang ditimbulkan oleh kelalaian manusia akan terlihat dampaknya hari ini saja? tentu saja tidak. Efek ini akan terus menerus terjadi secara berkelanjutan. 

Bukankah kita ingin melihat anak cucu kita kelak hidup dengan nyaman? 
bukankah kita ingin melihat anak cucu kita kelak tersenyum tanpa beban berat di pundak mereka?

Mari mulai dengan aksi! sekecil apapun sangat berarti.
Mari melirik ke hal lain, yang tak luput dari masalah iklim. Salah satunya Kutub utara dan kutub selatan merupakan kawasan penting penopang keseimbangan bumi. Menurut survey yang akhir-akhir ini dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta, es di kutub utara mencair cukup signifikan dan menyebabkan naiknya permukaan air laut hingga naik tiga inci dibanding tahun 1992. Jika hal ini semakin parah melanda kawasan bumi, akibatnya adalah terendamnya permukaan daratan oleh air laut. Maka Negara-negara kepulauan seperti Indonesia akan lebih dahulu terendam. Dan mungkin saja kelak tak akan ada lagi Negara yang bernama Indonesia.
Apakah manusia adalah salah satu penyebabnya? atau ini hanya  “jeritan bumi” karena usianya yang sudah terlalu tua? 

Mari kita introspeksi diri, sudahkah kita peduli terhadap hutan atau ingin mengundulinya saja demi Rupiah?

Sudahkah kita menghemat bahan bakar bensin dengan cara menggantinya dengan menggunakan transportasi yang lebih ramah lingkungan?


Sudahkah kita meminimalisir pembangunan gedung-gedung megah pencakar langit?

Sudahkah kita peduli pada sungai dan tidak mencemarinya?

Sudahkah kita peduli pada lahan sawah dengan tidak mengalihfungsikannya menjadi perumahan?


Jika belum…. bumi akan terus “sakit”. Obatnya mudah, tapi pengaplikasiannya yang sulit.