HIJAUKAN BUMI DENGAN AKSI
Maraknya penebangan
hutan yang terjadi akhir-akhir ini dikawasan Nusantara menimbulkan berbagai
dampak buruk bagi kehidupan. Salah satu kasus yang menghawatirkan adalah kabut
asap yang melanda kawasan Palembang, Pekanbaru, Batam dan sekitarnya. Selain
itu, kawasan Kalimantan pun tak luput menjadi “sasaran” ulah keserakahan
manusia dan tangan-tangan jahil yang hanya mementingkan Rupiah tanpa
memperdulikan efek buruk atas tindakannya itu.
Tak hanya menimbulkan
efek negatif bagi kesehatan orang yang
menghirup udara yang terkena polusi asap, kejadian ini juga menimbulkan
terkikisnya lapisan ozon dan atmosfer bumi. Salah satu antisipasi sederhana
untuk mengatasi hal ini adalah dengan
membuat hujan buatan yang dialirkan oleh pesawat. Namun hal ini tentu
memerlukan biaya yang cukup besar. Menurut salah satu berita yang dilansir oleh
salah satu media, sebagian warga mengatasi efek buruk pencemaran udara yang
ditimbulkan oleh kabut asap dengan cara menaruh air dalam bejana atau ember yang
besar. Namun tentu saja hal ini belum efektif.
Pemerintah seharusnya
bertindak lebih cepat dan tanggap untuk
mengatasi persoalan ini. Jika dibiarkan terus-menerus maka kejadian buruk ini
akan meluas ke berbagai penjuru wilayah di Nusantara. Terlihat sederhana, tapi
tahukah bahwa bumi menjerit, bumi kesakitan, dan bumi memerlukan perhatian.
Apakah hal buruk yang
ditimbulkan oleh kelalaian manusia akan terlihat dampaknya hari ini saja? tentu
saja tidak. Efek ini akan terus menerus terjadi secara berkelanjutan.
Bukankah
kita ingin melihat anak cucu kita kelak hidup dengan nyaman?
bukankah kita
ingin melihat anak cucu kita kelak tersenyum tanpa beban berat di pundak
mereka?
Mari mulai dengan aksi!
sekecil apapun sangat berarti.
Mari melirik ke hal
lain, yang tak luput dari masalah iklim. Salah satunya Kutub utara dan kutub
selatan merupakan kawasan penting penopang keseimbangan bumi. Menurut survey
yang akhir-akhir ini dilakukan oleh berbagai instansi pemerintah dan swasta, es
di kutub utara mencair cukup signifikan dan menyebabkan naiknya permukaan air
laut hingga naik tiga inci dibanding tahun 1992. Jika hal ini semakin parah
melanda kawasan bumi, akibatnya adalah terendamnya permukaan daratan oleh air
laut. Maka Negara-negara kepulauan seperti Indonesia akan lebih dahulu
terendam. Dan mungkin saja kelak tak akan ada lagi Negara yang bernama
Indonesia.
Apakah manusia adalah
salah satu penyebabnya? atau ini hanya “jeritan
bumi” karena usianya yang sudah terlalu tua?
Mari kita introspeksi
diri, sudahkah kita peduli terhadap hutan atau ingin mengundulinya saja demi
Rupiah?
Sudahkah kita menghemat
bahan bakar bensin dengan cara menggantinya dengan menggunakan transportasi
yang lebih ramah lingkungan?
Sudahkah kita
meminimalisir pembangunan gedung-gedung megah pencakar langit?
Sudahkah kita peduli
pada sungai dan tidak mencemarinya?
Sudahkah kita peduli
pada lahan sawah dengan tidak mengalihfungsikannya menjadi perumahan?
Jika belum…. bumi akan
terus “sakit”. Obatnya mudah, tapi pengaplikasiannya yang sulit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar