Suatu anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam nampaknya Nusantara ini memang dijadikan oleh – NYA sebagai “miniaturnya dunia”, sehingga Multatuli menamakannya bagai “Jamrud di Katulistiwa”. Tidakkah kita merasa sangat bersyukur bahwa di Indonesia ini disamping kekayaan dan keindahan alamnya (SDA) terdapat berbagai ras warna kulit itu ada semua baik dari yang berkulit hitam dan berambut ikal seperti saudara – saudara kita di Papua dan Irian Jaya Barat, yang berkulit sawo matang yang memang merupakan kebanyakan dari warna kulit dari suku – suku Nusantara serta yang berkulit putih seperti kebanyakan suku Minahasa dan lain sebagainya (SDM) yang sekaligus sebagai sumber daya spiritual (SDS) dan sumber daya budaya (SDB) serta sumber daya sosial (SDSos).
Berdasarkan pernyataan seorang tokoh pejuang kemerdekaan yang heroic, idialis dan konsisten yang bernama Marwoto Sudebyo atau Dieng Marwah, dari Divisi X, yang juga sebagai seorang spiritualis, dimana ia mengharamkan dirinya sendiri untuk menerima pension selagi di bawah rezim Pak Harto. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia menyatakan bahwa “kata Indonesia” itu berasal dari bahasa “Sipoh” yakni “Indungsia”. Makna dari kata tersebut artinya adalah “induk dari seluruh suku bangsa di dunia”. Ia sangat meyakini bahwa di tatar Pasundan inilah Nabi Adam dan Ibu Hawa bahkan Maryam (Dewi Maria) itu berasal yang ia namakan sebagai “Bhumi Segandhu”. Dan masih menurutnya manusia di bumi ini belum sah dan sempurna untuk diakui sebagai anak cucu orang Jawa (bukan arti pulau, maksudnya adalah manusia beradab), sebelum mereka mencium bhumi Nusantara. Benarkah ?.
Hal tersebut bisa jadi secara makro identik dengan Pulau Jawa yang disamakan sebagai Pulau Nyawa atau Pulau Dewata dan ada spiritualis Yahudi yang menyebutnya Pulau Yehwa yang maknanya Pulau t(kecil)uhan (dewata). Yang lebih dikenal sebagai Pulau Jawa (Dwipa) sehingga konotasi Jawa adalah walaka, prasaja, bersahaja atau beradab. Maka penamaan bagi “orang Jawa” bukan berarti orang – orang yang terlahir di pulau Jawa (suku Jawa) melainkan orang Jawa maksudnya adalah “manusia yang beradab”. Maka jaman dulu kakek/nenek bila melihat seseorang tidak mengenal sopan santun atau etika pasti mereka akan mengatakannya : “orang kok tidak jawani”! Namun sebaliknya sekalipun itu seekor anjing akan tetapi dapat bertata – jalma atau patuh terhadap segala perintah tuannya mereka (dapat) dinamakan sebagai “anjing Jawa” sekalipun itu jenisnya herder dan lain sebagainya yang asalnya dari negara seberang.
Oleh sebab itu masih menurutnya nama “ACEH” yang juga disebut sebagai “Serambi(nya) Mekah”, itu memiliki makna akronim dimana dapat dianalogikan sebagai refleksi atas seluruh ras yang ada di dunia ini. Huruf awal “A” (Afrika, refleksi dari ras berkulit hitam), C (China refleksi dari ras berkulit kuning,), E (Eropa refleksi dari ras yang berkulit putih) dan H (Hindis yakni refleksi dari ras yang berkulit sawo matang/coklat). Apakah itu suatu kebetulan ?
Disamping itu masih menurutnya terdapat sejarah panjang dari nabi Sulaiman hingga ke Brawijaya Pamungkas dan terakhir kepada Bung Karno dan perjanjiannya dengan Belanda dan Amerika Serikat serta hubungannya dengan Hindia Muka (India) dan Hindia Belakang (Indonesia) ?. Yang tak pernah diketahui oleh para sejarawan kita.
Asal – usul nenek moyang bangsa kita hingga kini masih belum jelas dan purna karena pendapat yang mengatakan dari Yunan & atau dari Hindia Belakang dinilai lemah sebab pendidikan di jaman Belanda belum dilengkapi dengan pengetahuan genetic dan linguistic yang tajam. Teori hanya dibangun melalui segi fisik saja. Sebaliknya teori “Out of Taiwan” yang mengatakan bahwa manusia Austronesia, atau kita ini berasal dari Taiwan masih dapat dipatahkan karena menurut Direktur Institut Biologi Molekuler Prof. Dr. Sangkot Marzuki meyakini bahwa manusia Austronesia itu justru datang dari daratan Sunda. Oleh sebab itu ia menghimbau agar sejarah asal – usul nenek moyang bangsa Indonesia ini perlu dirombak dan disesuaikan dengan kemajuan tehnologi.
Nah ternyata tentang asal – usul bangsa Indonesia, apa yang diyakini oleh Dieng Marwah tersebut secara supranatural nampaknya secara saintifik pun dapat seiring sejalan dan terdapat kesesuaian. Maka akan bijak dan bajik manakala kaum akademisi mau dan mampu menganggap bahwa supranatural dan mitologi sama berharganya dengan tehnologi tidak saling merendahkan sebaliknya justru dapat sejajar dan dapat diberdayakan bersama untuk menuju kebenaran. Apalagi secara saintific yang digali selama 30 tahun oleh ilmuwan A. Santos disimpulkan bahwa Indonesia ini tak lain adalah Benua Atlantis yang hilang itu.
Sementara menurut metafisikawan Ir. Pradiko menyatakan bahwa Indonesia adalah kepanjangan dari : ”IND” = India, “O” = of, “NE “ = Netherland, “S” = State, “I” = in dan “A” adalah Asia”., Jadi INDONESIA adalah merupakan “India of Netherland State in Asia”.
2. Pandangan Akademisi
Nah sementara untuk melengkapinya dari sisi kepustakaan nampaknya
dapat dirunut dari uraian di bawah ini.
Pada zaman purba, kepulauan tanah air kita disebut dengan aneka
nama. Dalam catatan bangsa Tionghoa kawasan kepulauan kita dinamai “Nan-hai” (Kepulauan Laut Selatan). Berbagai catatan kuno bangsa India menamai kepulauan ini “Dwipantara” (Kepulauan Tanah Seberang), nama yang diturunkan dari kata Sansekerta “dwipa” (pulau) dan “antara” (luar, seberang). Kisah Ramayana karya pujangga Valmiki yang termasyhur itu menceritakan pencarian terhadap Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke “Suwarnadwipa” (Pulau Emas, yaitu Sumatra sekarang) yang terletak di Kepulauan Dwipantara. Termasuk nama ekspedisi Angkatan Laut Kerajaan Nasional “Singhasari” yakni “Dwipantara Pamalayu”. Sedangkan kerajaan di Jambi bernama “Swarnabhumi”.
Bangsa Arab menyebut tanah air kita “Jaza’ir al-Jawi” (Kepulauan Jawa). Nama Latin untuk kemenyan adalah “benzoe”, berasal dari bahasa Arab “luban jawi” (kemenyan Jawa), sebab para pedagang Arab memperoleh kemenyan dari batang pohon “Styrax sumatrana” yang dahulu hanya tumbuh di Sumatra. Sampai hari ini jemaah haji kita masih sering dipanggil “Jawa” oleh orang Arab. Bahkan orang Indonesia luar Jawa sekalipun. “Samathrah, Sholibis, Sundah, kulluh Jawi (Sumatra, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa)” kata seorang pedagang di Pasar Seng, Mekah.
Lalu tibalah zaman kedatangan orang Eropa ke Asia. Bangsa-bangsa Eropa yang pertama kali datang itu beranggapan bahwa Asia hanya terdiri dari Arab, Persia, India, dan Cina. Bagi mereka, daerah yang terbentang luas antara Persia dan Cina semuanya adalah “Hindia”. Semenanjung Asia Selatan mereka sebut “Hindia Muka” dan daratan Asia Tenggara dinamai “Hindia Belakang”. Sedangkan tanah air kita memperoleh nama “Kepulauan Hindia” (Indische Archipel, Indian Archipelago, l’Archipel Indien) atau “Hindia Timur” (Oost Indie, East Indies, Indes Orientales). Nama lain yang juga dipakai adalah “Kepulauan Melayu” (“aleische Archipel, Malay Archipelago, l’Archipel Malais”).
Ketika tanah air kita terjajah oleh bangsa Belanda, nama resmi yang
digunakan adalah “Nederlandsch – Indie” (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah “To-Indo” (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu “Insulinde” yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin ‘”insula” berarti pulau). Tetapi rupanya nama “Insulinde” ini kurang populer.
digunakan adalah “Nederlandsch – Indie” (Hindia Belanda), sedangkan pemerintah pendudukan Jepang 1942-1945 memakai istilah “To-Indo” (Hindia Timur). Eduard Douwes Dekker (1820-1887), yang dikenal dengan nama samaran Multatuli, pernah mengusulkan nama yang spesifik untuk menyebutkan kepulauan tanah air kita, yaitu “Insulinde” yang artinya juga “Kepulauan Hindia” (bahasa Latin ‘”insula” berarti pulau). Tetapi rupanya nama “Insulinde” ini kurang populer.
Pada tahun 1920-an, Ernest Francois Eugene Douwes Dekker (1879-1950), yang kita kenal sebagai Dr. Setiabudi (beliau adalah cucu dari adik Multatuli), mempopulerkan suatu nama untuk tanah air kita yang tidak mengandung unsur kata “India”. Nama itu tiada lain adalah “Nusantara”, suatu istilah yang telah tenggelam berabad-abad lamanya. Setiabudi mengambil nama itu dari Pararaton, naskah kuno zaman Majapahit yang ditemukan di Bali pada akhir abad XIX lalu yang diterjemahkan oleh J.L.A. Brandes dan diterbitkan oleh Nicholaas Johannes Krom pada tahun 1920.
Namun perlu dicatat bahwa pengertian Nusantara yang diusulkan Setiabudi jauh berbeda dengan pengertian, nusantara zaman Majapahit. Pada masa Majapahit Nusantara digunakan untuk menyebutkan pulau-pulau di luar Jawa (antara dalam bahasa Sansekerta artinya luar, seberang) sebagai lawan dari “Jawadwipa” ( Pulau Jawa). Kita tentu pernah mendengar Sumpah Palapa dari Gajah Mada, ”Lamun huwus kalah Nusantara, isun amukti palapa” (Jika telah kalah pulau-pulau seberang, barulah saya menikmati istirahat).
Oleh Dr. Setiabudi kata Nusantara zaman Majapahit yang berkonotasi non Jawais itu diberi pengertian yang nasionalistis. Dengan mengambil kata Melayu asli , maka Nusantara kini memiliki arti yang baru yaitu “nusa di antara dua benua dan dua samudra”, sehingga Jawa pun termasuk dalam definisi Nusantara yang modern. Istilah Nusantara dari Setiabudi ini dengan cepat menjadi populer penggunaannya sebagai alternatif dari nama Hindia Belanda kala itu.
Sampai hari ini istilah Nusantara tetap kita pakai untuk menyebutkan wilayah tanah air kita dari Sabang sampai Merauke. Tetapi nama resmi bangsa dan negara kita adalah Indonesia. Kini akan kita telusuri dari mana gerangan nama yang sukar bagi lidah Melayu ini muncul.
3. Pencetus Nama Indonesia
Pada tahun 1847 di Singapura terbit sebuah majalah ilmiah tahunan, “Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia” (JIAEA), yang dikelola oleh James Richardson Logan (1819-1869), berkebangsaan Skotlandia yang meraih sarjana hukum dari Universitas Edinburgh. Kemudian pada tahun 1849 seorang ahli etnologi bangsa Inggris, George Samuel Windsor Earl (1813-1865), menggabungkan diri sebagai redaksi majalah JIAEA.
Dalam JIAEA Volume IV tahun 1850, halaman 66-74, Earl menulis artikel “On the Leading Characteristics of the Papuan, Australian and Malay-Polynesian Nations”. Dalam artikelnya itu Earl menegaskan bahwa sudah tiba saatnya bagi penduduk Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu untuk memiliki nama khas (a distinctive name), sebab nama Hindia tidaklah tepat dan sering rancu dengan penyebutan India yang lain. Earl mengajukan dua pilihan nama: “Indunesia atau Malayunesia” (“nesos” dalam bahasa Yunani berarti pulau). Pada halaman 71 artikelnya itu tertulis: “… the inhabitants of the Indian Archipelago or Malayan Archipelago would become respectively Indunesians or Malayunesians “.
Earl sendiri menyatakan memilih nama “Malayunesia” (Kepulauan Melayu) daripada “Indunesia” (Kepulauan Hindia), sebab “Malayunesia” sangat tepat untuk ras Melayu, sedangkan “Indunesia” bisa juga digunakan untuk Ceylon (Srilanka) dan Maldives (Maladewa). Lagi pula, kata Earl, bukankah bahasa Melayu dipakai di seluruh kepulauan ini? Dalam tulisannya itu Earl memang menggunakan istilah “Malayunesia” dan tidak memakai istilah “Indunesia”.
Dalam JIAEA Volume IV itu juga, halaman 252-347, James Richardson Logan menulis artikel “The Ethnology of the Indian Archipelago”. Pada awal tulisannya, Logan pun menyatakan perlunya nama khas bagi kepulauan tanah air kita, sebab istilah “Indian Archipelago” terlalu panjang dan membingungkan. Logan memungut nama “Indunesia” yang dibuang Earl, dan huruf u digantinya dengan huruf o agar ucapannya lebih baik. Maka lahirlah istilah Indonesia.
Untuk pertama kalinya kata Indonesia muncul di dunia dengan tercetak padahalaman 254 dalam tulisan Logan: “Mr. Earl suggests the ethnographical term Indunesian, but rejects it in favour of Malayunesian. I prefer the purely geographical term Indonesia, which is merely a shorter synonym for the Indian Islands or the Indian Archipelago. Ketika mengusulkan nama “Indonesia” agaknya Logan tidak menyadari bahwa di kemudian hari nama itu akan menjadi nama bangsa dan negara yang jumlah penduduknya peringkat keempat terbesar di muka bumi!
Sejak saat itu Logan secara konsisten menggunakan nama “Indonesia” dalam tulisan-tulisan ilmiahnya, dan lambat laun pemakaian istilah ini menyebar di kalangan para ilmuwan bidang etnologi dan geografi.
Pada tahun 1884 guru besar etnologi di Universitas Berlin yang bernama Adolf Bastian (1826-1905) menerbitkan buku “Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel” sebanyak lima volume, yang memuat hasil penelitiannya ketika mengembara ke tanah air kita tahun 1864 – 1880. Buku Bastian inilah yang memopulerkan istilah “Indonesia” di kalangan sarjana Belanda, sehingga sempat timbul anggapan bahwa istilah “Indonesia” itu ciptaan Bastian. Pendapat yang tidak benar itu, antara lain tercantum dalam “Encyclopedie van Nederlandsch – Indie” tahun 1918. Padahal Bastian mengambil istilah “Indonesia” itu dari tulisan-tulisan Logan.
Putra ibu pertiwi yang mula-mula menggunakan istilah “Indonesia” adalah Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Ketika di buang ke negeri Belanda tahun 1913 beliau mendirikan sebuah biro pers dengan nama “Indonesische Pers-Bureau”.
4. Makna Politis “INDONESIA”
Sementara nama Indonesia pada tahun 1920 saat berlangsung Konggres Yong Java di Bandung yang juga dihadiri oleh Bung Karno, pertama kali ditemukan istilah “INDONESIA” sebagai nama dari sebuah perusahaan asuransi Dr. Sam Ratulangi. Disamping itu pada tahun yang sama oleh Semaun dan Darsono mendirikan Paratai “Perserikatan Komunis Hindia”. Dan saat itu Bung Karno pun mulai kuliah di THS (ITB) Bandung selanjutnya pada 1921 Bung Karno paska pertemuannya dengan petani gurem di Tatar Pariangan Bandung Selatan dengan Akang Marhaen dan nama Indonesia beliau dengung – dengungkan, sehingga partai politik non cooperative yang beliau bentuk pada 1927 pun menggunakan nama Indonesia pula yakni Partai Nasional Indonesia (PNI).
Oleh karnanya pada dasawarsa 1920-an, nama “Indonesia” yang merupakan istilah ilmiah dalam etnologi dan geografi itu diambil alih oleh tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan tanah air kita, sehingga nama “Indonesia” akhirnya memiliki makna politis, yaitu identitas suatu bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan! Akibatnya pemerintah Belanda mulai curiga dan waspada terhadap pemakaian kata ciptaan Logan tersebut.
Pada tahun 1922 atas inisiatif Mohammad Hatta, seorang mahasiswa “Handels Hoogeschool” (Sekolah Tinggi Ekonomi) di Rotterdam, organisasi pelajar dan mahasiswa Hindia di Negeri Belanda (yang terbentuk tahun 1908 dengan nama “IndischeVereeniging”) berubah nama menjadi “Indonesische Vereeniging” atau Perhimpoenan Indonesia. Majalah mereka, Hindia Poetra, berganti nama menjadi Indonesia Merdeka.
Bung Hatta menegaskan dalam tulisannya, “Negara Indonesia Merdeka yang akan datang (“De toekomstige vrije Indonesische staat”) mustahil disebut “Hindia Belanda”. Juga tidak “Hindia” saja, sebab dapat menimbulkan kekeliruan dengan India yang asli. Bagi kami nama Indonesia menyatakan suatu tujuan politik (“een politiek doel”), karena melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan, dan untuk mewujudkannya tiap orang Indonesia (Indonesier) akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya.
Sementara itu, di tanah air Dr. Sutomo mendirikan “Indonesische Studie
Club” pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 “Jong Islamiten Bond” membentuk kepanduan “Nationaal Indonesische Padvinderij” (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”.Tak ketinggalan tokoh nasionalis kontroversial Sutan Ibrahim atau Datuk Tan Malaka, pada 1925 di pengasingan menulis buku “Naar Republiek Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kita sebut dengan “Sumpah Pemuda”.
Club” pada tahun 1924. Tahun itu juga Perserikatan Komunis Hindia
berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI). Lalu pada tahun 1925 “Jong Islamiten Bond” membentuk kepanduan “Nationaal Indonesische Padvinderij” (Natipij) . Itulah tiga organisasi di tanah air yang mula-mula menggunakan nama “Indonesia”.Tak ketinggalan tokoh nasionalis kontroversial Sutan Ibrahim atau Datuk Tan Malaka, pada 1925 di pengasingan menulis buku “Naar Republiek Indonesia”. Akhirnya nama “Indonesia” dinobatkan sebagai nama tanah air, bangsa dan bahasa kita pada Kerapatan Pemoeda-Pemoedi Indonesia tanggal 28 Oktober 1928, yang kita sebut dengan “Sumpah Pemuda”.
Pada bulan Agustus 1939 tiga orang anggota ”Volksraad” (Dewan Rakyat; DPR zaman Belanda), Muhammad Husni Thamrin, Wiwoho Purbohadidjojo, dan Sutardjo Kartohadikusumo, mengajukan mosi kepada Pemerintah Belanda agar nama “Indonesia” diresmikan sebagai pengganti nama “Nederlandsch- Indie”. Tetapi Belanda keras kepala sehingga mosi ini ditolak mentah-mentah.
Maka kehendak Allah pun berlaku. Dengan jatuhnya tanah air kita ke tangan Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, lenyaplah nama “Hindia Belanda” untuk selama-lamanya. Lalu pada tanggal 17 Agustus 1945, atas berkat dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa, lahirlah Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). (sumber Direktur Pendidikan Ganesha Operation, dan lain – lain).
3. Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia
Sebagai pengejawantahan Sumpah egalieristic, sumpah idiologis – moral – spiritual yakni “Sumpah Pemuda”, maka setelah terbentuk adanya suatu kesadaran bersama yakni “bangsa Indonesia”, harus secara defakto dan deyure memiliki suatu teritorrial yakni Tanah Air Indonesia. Oleh sebab itu Wilayah territorial Negara (Proklamasi) Kesatuan Republik Indonesia sejatinya telah dibahas dalam rapat – rapat BPUPKI pada 10 – 11 Juli 1945 dengan begitu alotnya. Oleh sebab itu R. P. Suroso mengidentifikasi berbagai masukkan sehingga disimpulkan menjadi 3 kelompok pilihan teritorri & ( ) hasil voting yakni :
a. Hindia Belanda dahulu (19 orang).
- b. Hindia Belanda ditambah dengan Malaya tetapi dikurangi dengan Papua (6orang).
- c. Hindia Belanda ditambah dengan : Malaya, Burneo Utara, Timor – Timur, dan Papua seluruhnya dengan pulau – pulau di sekelilingnya (39 orang)
Sedangkan yang memilih lain – lain dan banko masing – masing 1 orang.
Keputusan tersebut dilaporkan kepada Gun Seiken Kaka (Kepala Pemerintahan Militer Jepang) pada 18 Juli 1945 dengan No. Surat D.K/1/17.9.
Namun sayang banyak warga bangsa yang kurang memahami wilayahnya sendiri.
Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia adalah merupakan berkat dan rakhmad Tuhan Seru Sekalian Alam bagi bangsa ini, yang tiada duanya.
Keunggulan komparatif berbagai sumber daya baik seperti sumber daya alam maupun supra daya yakni termasuk sumber daya sosial, sumber daya budaya, sumber daya idiologi , sumber daya religiusitas dan sumber daya spiritual. Seharusnya bila itu semua dapat diperstukan dan diberdayakan (empowering) dengan benar dan tepat pastilah bangsa & negara ini telah menjadi pemimpin dunia dan telah menjadi mercu suar dunia. Andai kata rezim Bung Karno tidak runtuh oleh upaya konspratif internasional mungkin sejarah Indonesia menjadi lain adanya.
Bila kita berkenan mengkaji sejarah Tumapel/Singhasari, Ken Arok atau yang resmi bergelar “Sri Rajasa Sang Amurwabhumi” hanya dalam kurun waktu 50 tahun telah mampu mewarisankan kerajaan Singhasari menjadi kerajaan nasional “super power”. Di bawah raja terakhir Sri Kerta Negara, Ia bergeming menolak terhadap intervensi & hegomoni serta keperkasaan maha imperialis Asia clen Jengis Khan yakni Kubilai Khan. Sehingga duta besar Meng Khie (Meng Chi’e) yang diutus mengunjungi Singhasari guna memaksanya takluk untuk ke tiga kalinya harus menanggung derita seumur hidup karena telinga dan hidungnya diperung/dipotong oleh Sang Raja yang murka karena dihinakan oleh kerajaan Mongolia tersebut (1289).
Bandingkan dengan “Peringatan Indonesia Emas” 1995, yang lalu dimana berbagai sumber daya tersebut tak lagi mampu didayakan untuk kepentingan rakyat – bangsa & negara. Sedangkan teramat jelas sebagaimana diamanatkan dalam pasal 33 UUD 1945. Quovadis.
Negeri tercinta ini memiliki kekayaan hayati tak kurang dari 2.000 macam spicies ikan; 80 genera terumbu karang atau setara dengan 17,95 % dunia; hutan mangrove selebar 30% dari luas hutan dunia. Dan potensi non hayati sedikitnya terdapat 40 cekungan minyak & gas bumi; 3 buah perairan laut kepulauan Indonesia yang menghubungkan Laut China Selatan, Laut Sulawesi dan Samudera Pacifik di Sub Utara dengan Samudera Hindia dan Lautan Arafuru/Laut Timor di selatan.
95% pelayaran perdagangan di kawasan Asia Pacific pun melewati perairan Indonesia dan 72% melewati Selat Malaka. Kini baru 11 cekungan yang dikelola (cadangan minyak mencapai 1,93 miliar barrel, cadangan gas bumi 107,5 triliun CBM). Sementara Badan Penelitian & Pengembangan Departemen Energi & Sumber Daya Mineral, memperkirakan sumber daya minyak bumi di perairan Indonesia adalah 40,1 miliar barrel, gas bumi 217,7 triliun CBM, sedangkan cadangan emas dan perak berserakan dari Sumatera hingga Papua, tak terbilang. Hasil perikanan di laut seluas 5,8 juta km2 itu sendiri menyimpan 6,26 juta ton ikan dan yang dapat dimanfaatkan nelayan 5,01 juta ton ikan per tahun. Suatu negara yang memiliki suku terbanyak, bahasa terbanyak dan akar – akar budaya terbanyak dunia dengan keragaman hayati dengan taburan keindahan alam bak musaik yang indah menawan.
Disamping itu Indonesia adalah merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Pada 1987 Indonesia telah melaporkan pada PBB perubahan jumlah pulaunya dari 13.667 menjadi 17.508 pulau. Pada saat itu jumlah pulau yang bernama hanya 5.707 pulau. Sampai 10 Maret 2007 tercatat di berbagai propinsi sebagai berikut :
1. Kepri jumlah = 2.408 yang belum diberi nama 394.
2. Irjabar jumlah = 1.997 yang belum diberi nama 968.
3. Maluku Utara jumlah = 1.525 yang belum diberi nama 897.
4. Maluku jumlah = 1.399 yang belum diberi nama 631.
5. NTT jumlah = 1.192 yang belum diberi nama 685.
6. Kebabel jumlah = 950 yang belum diberi nama 639.
Dan per per Juni 2008 terakumulasi 8.172 pulau dari 25 propinsi yang telah terferivikasi.
Pulau terluar di utara adalah Pulau Miangas, selatan Philipina sedangkan di selatan adalah Pulau Dana di selatan Kupang.
Luas wilayah NKRI = 5.193.250 KM2.
Luas Laut = 3.166.163 KM2.
Luas Daratan = 2.027.087 KM2.
Garis pantai = 80.791,42 KM2 yang merupakan ke dua terpanjang setelah Canada.
Terdapat 12 pulau terluar yang harus dipertahankan yakni pulau : Rondo; Berhala; Nipa; Sekatung; Marore; Marampit; Miangas; Fani; Fanildo/Mapia; Botek dan Mangudu.
Sesuai dengan keputusan pada tanggal 10 Juli 1945 tersebut jelaslah bahwa Timor – Timur, Sipadan dan Ligitan adalah merupakan bagian wilayah teritorial Negara Proklamasi, maka amat naif sampai pulau – pulau tersebut lepas dari pangkuan NKRI.
Begitu lemahnya deplomasi negara tercinta ini ditingkat internasional, maka Malaysia semakin percaya diri untuk segera mencaplok perairan Ambalat dan mereka telah sukses tidak saja melakukan pembalakan liar bahkan telah memindahkan patok – patok perbatasan semakin masuk kedalam wilayah Indonesia di perbatasan Kalimantan bahkan beberapa titik telah dilengkapi helipad sebagai tempat pendaratan helicopter Diraja Malaysia. Belum lagi merekrut para pemuda di perbatasan untuk dijadikan tentara atau polisi Diraja. Ironisnya Duta besar kita (Rusdi Harjo & Dai Bahtiar) justru sangat permisif bahkan saat marak demontrasi rakyat Indonesia atas pengeklaiman budaya – budaya asli Nusantara seperti Lagu Terang Bulan, notasinya dijadikan Lagu Kebangsaan Diraja Malaysia; menyusul gamelan dari Jawa; Lagu Injit – Injit Semut dari Jambi; Badik Tumbuklada dari Riu, Deli dan Siak; Batik Parang dari Jogya, kemudian Angklung dari Jawa Barat; wayang kulit; rendang; Lagu Rasa Sayange dari Maluku, Seleram dari Riau, musik Indang Sungai Garinggiang dari Sumbar, Kudalumping dari Jatim dan juga Reok (Barongan) dari Ponorogo kini menyusul Tari Pendet yang diklaim menjadi miliknya.
Malaysia paham betul bagaimana fungsi budaya sebagai jati diri bangsa itu maka jargonnya “Bila ingin melihat identitas Asia maka Malaysialah negerinya” yang telah dikumandangkannya ke seluruh dunia itu. Sayang Negeri Jiran tersebut miskin sumber daya budaya (SDB) sehingga terpaksa jalan pintas tersebut diambilnya. Nah atas cara – cara adharma itulah yang menyulut kemarahan masyarakat sehingga bendera Malaysia dibakarnya. Akan tetapi duta besar kita di Malaysia justru meminta maaf kepada rakyat Malaysia. Sungguh menyedihkan. Akibatnya mereka merasa Indonesia tak ada apa – apanya apalagi jutaan rakyat Indonesia mengais rejeki di negeri tersebut. Maka pelanggaran laut wilayah utamanya di Perairan Ambalat terjadi puluhan kali namun dibiarkan saja dengan dalih upaya deplomasi sedang diupayakan. Bila pelanggaran itu hanya tiga kali mungkin itu masih termaafkannya namun bila puluhan kali itu tak lain adalah sikap melecehkan bangsa dan negara tercinta ini.
Hal tersebut belum terselesaikan bahkan belum lama ini menyusul pulau Miangas, Mavore & Marampil di Sangihe Talaud telah dimasukkan pula dalam peta pariwisata Philipina. (Kompas, 12 Februari 2009). Bahkan gambar Garuda Pancasila pun dijadikan gambar – gambar pada kaos oleh perusahaan mode Italia Armani.
Mengapa itu terjadi, karena kepemimpinan Nusantara termasuk para duta besar tak lagi peduli dengan sejarah bangsanya sehingga mengakibatkan tidak terjalin adanya suatu kesinambungan dan kesalahan Pemerintahan sejak Pak Harto berkuasa disamping justru mengingari kebijakan pendahulunya yang ingin menghilangkan penghisapan antar bangsa dan antar manusia “Exploitation de l’homme par l’homme & exploitation de nation par nation” dengan anti nekolim – neokolonialisme – globalisasi dan atau pasar bebas. Namun rezim Pak Harto justru mengembangkan neo libarilisme dan orientasi pembangunan yang cenderung ke darat, land bases oriented atau bahkan ke high tech kedirgantaraan. Pak Harto begitu yakin dan percaya apa yang diperjuangkannya dalam “APEC” yang pernah menggelar konferensinya di Istana Bogor pada 1994. Yang agenda dan isinya pun misterius karena tak pernah dibahas sebelumnya dengan DPR. Sedangkan sebagai negara archipelago, negara kepulauan seharusnya “archipelagic base oriented” yang seyogyanya diutamakannya. Akibatnya mobil KIA buatan Korea Selatan kita perdaya seolah – olah itu buatan Indonesia sendiri. Quovadis ! Sehingga kita menjadi pecundang setelah gugatan dilayangkan ke WTO. Sementara India dan RRC yang tak tergiur oleh APEC justru mereka berjaya dan luput dari badai krisis moneter.
Andai saja kekayaan alam seperti di Gunung Easrburgh yang kandungan mas itu yang oleh Freeport, perusahaan transnasional dideklarasikan hanya sebagai “tembaga” itu bisa didayakan oleh bangsa kita sendiri barang tentu sudah mampu menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Terdapat sinyalemen berdasarkan suatu laporan tahun 2000, produksi bahan : tembaga 742,4 juta ton/per tahun, bahan emas 90,23 juta ton/tahun dan bahan perak 145,45 juta ton/tahun. Sementara bangsa ini sebagai pemiliknya namun justru kita hanya memilikinya saham minoritas, dan hingga kini masyarakat Irian Jaya Barat & Papua Barat nampaknya terpinggirkan akibatnya sering timbul konflik yang tak ada habis – habisnya. Uang yang mengalir dari Free Port setelah mengenyangkan rasa lapar mereka baru masuk ke Indonesia sayangnya bocor dan masuk ke kantong – kantong pribadi baik pusat maupun daerah sementara korban nyawa pun mengiringanya pula.
Itulah suatu fakta adanya neoliberalisasi yang jamannya Bung Karno tak mendapatkan tempat namun di bawah Pak Harto justru pada 1967, kran tersebut dibuka selebar – lebarnya dengan memberikan 1,2 juta hektar tanah di Papua kepada PT. Freeport Mc Morgan, & Rio Tinto, kemudian dibuat kesepakatan untuk membagi – bagi tambang minyak bumi & mineral di Indonesia kepada perusahaan asing seperti Caltex, Frontier, Hapco, Sibclair & Gulf Western. (Kompas, 20/01/03).
Kemudian mengapa bangsa yang besar dan kaya raya ini penduduknya masih begitu miskin ? yang jumlahnya masih saja selalu menjadi perdebatan ?. Sekalipun penduduk miskin di Indonesia ini telah ditekan hingga mencapai 5% saja itu pun, pasti ada yang salah dalam tata kelola pemerintahan apa lagi faktanya Pemerintah telah gagal total dengan fakta – fakta maraknya mafioso peradilan – makelar kasus – jual beli perkara dimana hukum dan keadilan dijadikan komoditas. Kriminalisasi KPK, Koruptor dan Ratu Ektasi/Narkoba justru menjadi pujaan dengan diberikannya fasilitas yang super mewah di penjara dan hebatnya dayang – dayangnya adalah semuanya PNS, BLBI jilid II pun terjadi lagi, yang mengaku wakil rakyat justru mempertontonkan kepiawaiannya ber KKN dan bersilat – lidah pokrol bambo layaknya pentas badut – badut saja, simbul Negara – gambar presiden disobek – sobek bahkan dibakarnya, intrik – fitnah dan anarkisme telah meraja lela. Sungguh dekadensi moral telah menggerogoti bangsa tercinta ini. Tak ada lagi sifat kekeluargaan, mendahulukan kepentingan umum, saling hormat – menghormati apa lagi sikap patriotic yang rela berkorban demi bangsa dan Negara.
Akibat semua itu oleh Bank Dunia, 27 September 2009 NKRI ditasbihkan termasuk sebagai Negara Termiskin di dunia yang menempati rangking ke 68 jauh di bawah Vietnam. Singapura dan Malay yang begitu kecil bila diabndingkan dengan Indonesia justru ditasbihkan sebagai negara makmur tidak termasuk dalam daftar tersebut. Quovadis bangsaku!
Anugerah Allah SWT tersebut mestinya dijaga, dirawat dan diberdayakannya apa lagi founding fathers telah mewariskan, mewasiatkan, mengamantakan dan mengamanahkan pula Negara Proklamasi yang dilengkapi dasar negara ”PANCASILA” sebagai landasan idiologis, moral, spiritual dan religius serta UUD 1945 sebagai landasan konstitusional, dimana pasal 33 telah amat jelas, generasi kini tinggal melaksanakannya saja. Dan bukan untuk dinodai oleh ego anak – anak bangsanya sendiri seiring dengan inviltrasi maraknya ”Perang Modern”, yang lebih murah biayanya ketimbang ”Perang Konvensional”, namun efeknya sungguh menakjubkan, karena perang modern memiliki seribu satu wajah seperti aspek politik, sosial, budaya, lingkungan hidup, HAM, tehnologi termasuk imperialisme idiologis, maupun spiritual yang telah dengan begitu mudah menghancurkan Uni Soviyet, Yugoslavia dan kini sedang menyerbu bumi Nusantara tercinta ini. Penangkalnya, justru diennyahkan dari kehidupan berbangsa & bernegara dengan adanya ”Denation & character building” yang telah dicanangkan oleh Bung Karno.
Buku ”Bangsa Indonesia Terjebak Perang Modern”, karya Team Seskoad yang dikomandani oleh Majen Syarifudin Tippe, telah menganalisis dampak bagi NKRI, sayang buku yang penting untuk dipahami oleh para elit penyelenggara negara tersebut nampaknya belum dijadikan rujukan bagi mereka. Jangan sampai kita diberikan stigma sebagai ”generasi yang durhaka”, menjadi pengkhianat atas wasiat, warisan amanat dan amanah founding fathers, para pejuang, para pahlawan dan syuhada yang telah mengorbankan harta, darah dan nyawanya tersebut asalkan anak – anak keturunannya itu senantiasa dapat hidup berbudaya, bermartabat, merdeka, sejahtera adil dan makmur. Nah mengapa kita melaksanakan amanat tersebut saja belum mampu namun justru kita merasa jumawa lebih pandai ketimbang para foungding fathers dan pendahulu kita ? Kemakah rasa hormat dan bakti kita ? sementara yang kita lakukan justru membuat arwah mereka menangis dan meratapi warisannya yang justru jauh panggang dari api itu ?.
Dalam Al – Qor’an : Surat Al – ‘Araaf (7), Tempat Yang Tinggi ayat 96 dinyatakan bahwa “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertaqwa kepada Allah, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan dari bumi”. Tetapi oleh karena mereka mendustakan, Kami ambil tindakan terhadap mereka disebabkan salah perbuatan mereka sendiri”.
Nah mengapa anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam yang telah dilimpahkan kepada bangsa & Negara ini berkah NYA dari Langit dan dari Bumi, justru menjadi bencana bagi kehidupan berbangsa & bernegara ?. Bagaimana sumilirnya Sang Pawana dan mega yang berarak – arak bagai musaik dan lukisan alam yang berkanvaskan langit biru setelah menyatu justru menjadi “angin putting beliung”, hujan tak lagi sekedar menghidupkan tumbuh – tumbuhan atau flora dan fauna justru kini berubah menjadi air bah yang membuat pemukiman laksana lautan ?; bumi yang subur makmur justru kini tanahnya berguguran menjadi tanah longsor yang siap mengubur anak – anak bangsa yang disusuhinya sendiri, dia memuntahkan lumpur panas, juga gempa bumi yang entah kapan berkesudahan?. Bahkan waduk (Situ Gintung, Jati Luhur & Gajah Mungkur) airnya berubah menjadi petaka ?. Samudera raya yang ramah yang selalu menyambut pengunjungnya dengan riak – riak kecilnya kini berubah menjadi tsunami dan kini pun enggan mengikat CO2 sehingga menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim secara ekstrim dan seribu satu manifestasi lainnya.
Ketua MUI Jakarta KH. M. Handan Rasyid pada Muhasabah Muharram 1428 H di Jakarta, menyatakan bahwa : “Rusaknya Pemerintah terjadi akibat rusaknya ulama. Rusaknya ulama disebabkan tergodanya mereka atas harta dan tahta. Menurutnya, saat ini banyak ulama yang hanya berorientasi terhadap kehidupan duniawi dan mengejar jabatan politik tertentu. Akibatnya, mereka tak pek terhadap masalah umatnya & kerusakan yang terjadi. Ulama memiliki peran atas banyaknya bencana & musibah yang terjadi. Bagaimana ulama mau mengkritisi jika dia berada dalam system“, imbuhnya. (Kompas, Rabo 14 Februari 2007 hal.2).
Maka merupakan kewajiban seluruh anak bangsa yang tua yang muda, yang pria yang wanita, seluruhnya tanpa kecuali untuk mensinergikan semua daya dan potensinya masing – masing, bersatu padu guna kembali kepada Pancasila & UUD 1945 pra amandemen dan melaksanakan amanat – amanahnya demi terwujudnya amanat penderitaan rakyat. Semoga’
4. Nusantara Adalah Penjelmaan Benua Atlantis Yang Hilang
Prof. Dr. H. Priyatna Abdurrasyid, PHd menyatakan bahwa musibah alam beruntun di alami Indonesia mulai dari tsunami di Aceh hingga yang mutakhir semburan lumpur panas di Sidoarjo, Jatim. Hal itu mengingatkan kita pada peristiwa serupa di wilayah yang dikenal sebagai Benua Atlantis.
Plato (427 – 347 SM) menyatakan bahwa puluhan ribu tahun yang lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak yang menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagai permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya Benua yang hilang atau ATLANTIS.
Penelitian yang dilakukan oleh Aryso Santos, menegaskan bahwa Atlantis atu adalah wilayah yang sekarang disebut “INDONESIA”.
Setelah melakukan penelitian selama 30 tahun, ia menhasilkan buku “Atlantis, the Lost Continent Finally Found, The Difinitif Relocalization of Platos’s Lost Civilization”. (2005).
Santos menampilkan 33 perbandingan seperti : luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung berapi, dan cara bertani yang akhirnya menyimpulkan bahwa Atlantis itu adalah Indonesia.
Sistem terasisasi sawah yang khas Indonesia menurutnya ,ialah bentuk yang diabdosi oleh Candi Borobudur, Piramid Mesir dan bangunan kuno Aztec di Meksiko.
Konteks Indonesia, bukan kebetulan ketika Indonesia pada tahun 1958, atas gagasan Prof. Dr. Mochtar Kusuma Atmadja melalui UU No. 4 Perpes tahun 1960 mencetuskan “Deklarasi Juanda”. Isinya menyatakan bahwa Negara Indonesia dengan perairan pedalamannya merupakan kesatuan wilayah Indonesia”.
JAKARTA, KOMPAS.com — Tim yang terdiri dari gabungan para pakar geologi Indonesia, AS, dan Perancis berhasil menemukan gunung api raksasa di bawah perairan barat Sumatera. Gunung api tersebut berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter dan berada 330 km arah barat Kota Bengkulu.
Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris.
“Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia, tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua,” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam BPPT Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis (28/5).
Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330 km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. Meskipun gunung ini diketahui memiliki kaldera yang menandainya sebagai gunung api, para pakar mengaku belum mengetahui tingkat keaktifan gunung api bawah laut ini.
“Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik.
Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50 km) yang meliputi Palung Sunda, prisma akresi, tinggian busur luar (outer arc high), dan cekungan busur muka (fore arc basin) perairan Sumatera.
Sejak gempa dan tsunami akhir 2004 dan gempa-gempa besar susulan lainnya, terjadi banyak perubahan struktur di kawasan perairan Sumatera yang menarik minat banyak peneliti asing.
Tim ahli dari Indonesia, AS, dan Perancis kemudian bekerja sama memetakan struktur geologi dalam untuk memahami secara lebih baik sumber dan mekanisme gempa pemicu tsunami menggunakan citra seismik dalam (deep seismic image).
D. MITOLOGI DENGAN TEHNOLOGI
Secara mitologis & filosofis tiada seorangpun di dunia ini yang tercipta & terlahir tanpa unsur warna merah maupun putih yang keduanya memiliki multi maknafiah tersebut. Maka sebagai rasa hormat dan terimakasih masyarakat Nusantara dulu sering melakukan apa yang dinamakan brokohan, selamatan hari kelahiran, Sedekah Bumi, Sedekah Laut, Bersih Desa, Rasulan dan lain sebagainya yang kini tradisi tersebut hampir punah kecuali oleh sebagian masyarakat dan entitas penganut Hindu utamanya masyarakat Bali yang lekat dan patuh terhadap adat dan budaya Nusantara.
Akibat pengingkaran tersebut maka masyarakat Nusantara ini terjadi kekeringan : “rasa (ing) pangrasanya”, kering hati – nuraninya, kering rasa kebhinnekaan atau pluralisme serta kering rasa kekeluargaan dan kering atas rasa kesalehan sosialnya serta kering rasa cinta – kasih.
Hidupnya dipenuhi & diperkaya dengan ego sentries, individualistic atau bahkan primordialisme & anarkisme.
Sementara oleh kedalaman mitologi sepanjang penciptaan alam seisinya, termasuk manusia maka berbagai memori dan kekuatan masa lampau berakumulasi menjadi memori – memori & kekuatan – kekuatan masa kini, cupu (manik) misalnya menjadi HP, anak panah saktinya Arjuna menjadi peluru – peluru kendali, dan senjata Ashwatama menjadi bom atom, penampakan – penampakan di arena Mahabarata menjadi media satelit dengan berbagai acara TV pada era Kaliyugo, Zaman besi, atau zaman edan ini atau dalam Islam identik dengan (surat) Ad – Dukhaan atau (zaman) Kabut atau zaman kegelapan yang penuh dengan tipu daya .
Bahkan secara mitologis di bumi ini diyakini disangga oleh Danyang atau Sanghyang Ontoboga (Anantaboga). Bisa jadi oleh tehnologi dinamakan dengan “ring of fire”, yang daerahnya tergambar mirip dengan gambar seekor Naga tersebut. Gempa bumi DIJ dan Jateng nampaknya membuktikan bahwa obahing naga & petit naga tersebut mampu memporak – perandakan berbagai bangunan dan anehnya gerakan gempa tidaklah menyamping melainkan loncat – loncat atau berkelok – kelok bagai jalannya ular naga.
Bagaimana bangunan belasan tingkat, rubuh bagaikan sedang sujud seperti sebuah gedung STIE Kerjasama, di Jl. Parangtritis Jogya itu ?.
Di samping itu terdapat fakta yang mengagumkan bahwa pembangunan infrastrktur di jagad ini yang terlihat dari satelit menggambarkan berbagai musaik nan indah yang belum dapat disibak secara tehnologis, sebagaimana gambar di bawah ini.
Oleh sebab itu alangkah indahnya bilamana antara kedalaman mitologi dengan ketinggian tehnologi ini bisa berpadu, saling melengkapi, sehingga kejumawaan – kesombongan atas nama iptek dan agama, tak lagi ada sehingga paugeran tersebut tetap terpateri dan terhayati oleh anak – anak bangsa di dunia ini. Tradisi perilaku masyarakat Nusantara tempo dulu yang serba berfikir holistik & komprehensif yang lahir dan yang batin, yang tersurat dengan yang tersirat, mikrokosmos dengan makrokosmos, curiga manjing warangka – warangka manjing curiga, kodhok ngemuli lenge & jumbuhing kawula lawan Gusti, atau insensu stricto – in sense abstracto, nampaknya kini tak lagi dihayatinya sama sekali.
Adapun mitologi itu di dapat oleh para leluhur dengan laku tapa brata sehingga yang mengajarkan adalah para ghaib suci yang tidak pernah menuntut bayaran maupun berbohong sehingga outputnya adalah menuju kesempurnaan – ke Ilahian, sedangkan ilmu pengetahuan diajarkan oleh orang – orang yang kadang masih suka berbohong sehingga hasil cipta, rasa dan karsa bila tidak dipandu oleh nilai spiritual akan menghasilkan produk yang tertuju pada kemusnahan ciptaan Tuhan Seru Sekalian Alam itu sendiri atau terjadi disharmoni – ketidak seimbangan sehingga mengakibatkan hancurnya peradaban atau kemusnahan umat manusia sendiri.
Dengan meletakkan keduanya secara seimbang kita akan menjadi arif dan bijak karena kita tidak akan menjadi sombong dengan mengagungkan rasionalitas maupun ilmunya sebaliknya kita pun tak boleh menafikan rasionalitas dan ilmu agar tidak menjadikan diri kita menjadi dungu & jahil serta invantil adanya.
Kita maklum bahwa antara rasionalisme dan dogmatisme itu senantiasa berdampingan karena rasionalisme sangat tergantung pada dogma sebab tanpa dogma rasio tidak dapat bekerja. Sungguhpun demikian dogma itu sendiri adalah subjektif, sedangkan rasio juga tidak memiliki kemampuan mempertanyakan keabsahan atas dogma.
Demikian halnya antara subjectivitas dan obyektivitas juga merupakan pasangan yang tak terpisahkan. Akan tetapi sebenarnya obyektivitas itupun adalah subyektif. Karena obyektivisme itu merupakan keyakinan kita mengenai kebenaran objektivitas. Namun bukankah kebenaran dan keyakinan itu subyektif ? Dengan sendirinya bahwa rasionalisme itu pun nyatanya bukanlah rasional, karena pada galibnya rasionalisme itu pun munculnya dari intuisi yang gaib.
Lalu mengapa kita lebih suka dan cenderung menafikan adanya pluralisme ? bukankan berwarna – warni itu begitu indah seperti Pelangi ? bayangkan bila pelangi itu hanya berwarna hitam saja tentu amat sangat menyeramkannya, dan yang terbayang hanyalah terjadinya sebuah bencana angin puting beliung atau angin topan & badai. Oleh sebab itu paham radikalisme atau idiologi kekerasan – anarkisme yang diimpor dari manca negara seharusnya tak mendapatkan tempat di bumi PANCASILA yang terbentuk atas dasar ”Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa” itu.
Belum lagi bumi Nusantara ini dilimpahi segala sumber daya alam dan iklim dan cuaca yang seimbang, bandingkan dengan negara – negara di Eropa dan lainnya. Manakala kita ingin menikmati kesejukan tinggal pergi ke puncak, ingin menikmati panas tinggal ke pantai bandingkan bila musim dingin tiba di negeri manca betepa merepotkannya.
Nah negeri yang subur makmur, indah menawan dan segala kemudahan tersediakan oleh – NYA yang otomatis seluruh bangsa itu memimpikannya sehingga bangsa Portugis, Belanda dan Inggris serta Jepang bagaimana mereka tak segan – segan berperang guna memperebutkan Indonesia guna dikuasainya.
Oleh sebab itu kita telah terjajah tidak kurang dari 3,5 abad lamanya. Dan oleh kegigihan, jerih payah dan keihklasan dengan berbagai pengorbanan baik ego, harta, darah dan nyawa para pendahulu kita Bumi Pertiwi ini telah diberkati dan dirahmati oleh Tuhan Seru Sekalian Alam kembali kepangkuan anak – anak yang disusuhinya dengan dideklarasikannya ”Kemerdekaan Bangsa”, pada 17 Agustus 1945 sebagai ”Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan PANCASILA & UUD 1945”.
Bangsa ini sangat bersyukur terhadap pemahaman para kyai dan ulama sepuh yang tergabung dalam organisasi Nahdlatul Ulama yang memiliki prinsip atau kaidah : ”Al – muhhafazhah ’ala al – qadim al – shalih wa al – akhdzubi al – jadid al – ashlah” artinya ” Menjunjung tinggi warisan para leluhur yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik”!. Beruntung NU, tetap bergeming sekalipun dicap pihak lain sebagai bid’ah dan kurafat maupun Islam kultural.
Untuk itu peran kaum nadliyin dan seluruh anak bangsa seyogyanya dalam sutuasi yang sungsang bawana balik, penuh anomali ini, mau dan mampu berkorban dan berjuang lebih dari segala – galanya ketimbang sumbangsihnya sebelum ini karena keadaan berbangsa dan bernegara telah berproses menuju kesenjakalaan Negara Proklamasi Kesatuan Republik Indoesia, oleh karena Pancasila itu kini telah dinafikannya dan dibiarkan saja tanpa ada kemauan dari penyelenggara negara guna merevitalisasikannya kembali sesuai perkembangan jaman. Maka bila tak ada kesadaran, conciousness atas situasi & kondisi ini, tak lama lagi bangsa dan negara kita ini akan segera mengikuti jejak & nasib kerajaan nasional Sriwijaya, Singhasari dan Majapahit yang tinggal sejarahnya belaka. Relakah ?
Sebagai bangsa Nusantara maka tak dapat lepas dari pemahaman holistik ini sebagimana ”jiwa Tantularisme : Tan hanna dharma mangrwa, tiada kebenaran yang mendua”. Oleh sebab itu Kebijaksanaan filsafati & pengetahuan ilmiah semestinya selalu berjalan bergandengan. Sepanjang mengenai tujuannya, tidak ada perbedaan antara ilmu dengan seni sarvashastra prayojanam tatwa darsanam. Tujuan utama dari setiap ilmu tak lebih dari pada pandangan mendalam terhadap kenyataan, pemahaman tentang hakekat dunia dan alam semesta. Itulah tujuan akhir dari semua shastra”. (Radhakrishnan, ”True Knowledge” 1978 :23 & ”Faith Renewed”, 1979 : 21-22).
Hal tersebut identik dengan apa yang diwariskan pula oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma dengan kitab ”Sastra Gendhing”nya.
Dalam ilmu filsafat membedakan tetang etika yang menjadi ukuran atas baik dan buruk, estetika tentang indah atau jelek sebaliknya logika membawa pemahaman tentang benar dan salah. Sedangkan hidup sendiri merupakan keseimbangan dari ke tiganya.
Oleh sebab itu sesuatu yang benar belum tentu indah demikian pula yang indah belum tentu baik sebaliknya yang baik belum tentu benar, dan seterusnya.
Pendek kata mitologi adalah hasil budi dayanya batin sementara tehnologi adakah merupakan hasil budi dayanya akal piker. Oleh sebab itu adi kodrati kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa Nusantara tentunya berbeda dengan bangsa lain yang iklim dan tanahnya berbeda serta unsur alam & manusianya pun ikut menentukan. (contoh unsur air yang dominan seperti di daratan Eropa yang mengenal musim dingin maka bangsanya berkulit putih yang mengutamakan rasionalitas, sebagaimana sifat air yang selalu akan mengalir ke tempat yang lebih rendah, demikian pula bangsa yang unsur apinya (sinar matahari) dominan seperti bangsa Afrika di mana panas mataharinya menyentak – menyengat sehingga tetumbuhan pun jarang yang dapat hidup di sana, gunung cadas bebatuan dan gurun pasir terhampar hampir di semua sudut negeri, serta kulit mereka terbakar akibatnya warnanya menjadi hitam. Sementara bangsa Asia yang dominan memiliki sifat unsur bumi sehingga warnanya coklat dimana umumnya masyarakatnya berkulit sawo matang dan memiliki sifat yang adaptif, apa saja (agama – kepercayaan – budaya – ilmu & tehnologi dll.) dapat diterima masuk dengan baik, welcome. Adapun benua Kangguru bisa jadi banyak memiliki unsure angin yang menjadikan bangsanya bukan angin – anginan melainkan akan senantiasa beriring sejalan dengan (sifat) ether yang bisa jadi disimbulkan oleh negrinya Paman Sam sehingga memiliki sifat empowering yang ambiguitas dan lain sebagainya satu sisi mereka mengagungkan HAM disisi yang lain justru menjadi pelanggar terberat HAM itu sendiri. Maka sebagaimana adi kodratinya mereka tak akan mungkin menjadi bangsa pengayom bagi seluruh umat manusia melainkan tetap akan memposisikan dirinya sebagai “Polisi Dunia.
Suatu anugerah Tuhan Seru Sekalian Alam nampaknya Nusantara ini dijadikan oleh – NYA sebagai miniaturnya dunia. Tidakkah kita ini merasa sangat bersyukur bahwa di Indonesia ini berbagai ras warna kulit itu ada semua baik dari yang berkulit hitam dan berambut ikal seperti saudara – saudara kita di Bumi Cendrawasih, sedangkan disana berbeda sekali daerahnya dengan Afrika. Mengapa ? ini yang tak pernah dipertanyakannya. Kemudian yang berkulit putih seperti kebanyakan mojang Priangan – Minahasa dan lain sebagainya. Yang berkulit sawomatang justru sebagian besar masyarakatnya. Bahkan nama ACEH sebagaimana telisik Ki Dieng Marwah sebagaimana diulas tersebut di atas, dapat dianalogikan sebagai refleksi atas seluruh ras di dunia tersebut yakni A (Afrika – berkulit hitam ), China (berkulit kuning), E (Eropa yang berkulit putih) dan Hindis (berkulit sawo matang/coklat). Apakah itu suatu kebetulan ? Tentu tidak !
Mengapa kita tidak bersyukur dan bahkan keberagaman, Bhinneka tunggal ika atau e pluribus unum, unitas in plurifate, itu oleh sebagian orang diingkarinya?. Bahkan fatwa haram pun dilekatkannya pula oleh MUI ?. Sementara ancaman disintegrasi bangsa hancurnya NKRI luput dari perhatiannya, mungkin akan lebih berdaya guna manakala mereka menfokuskan fatwa dalam hal “hubbul watan minal iman” atau bela Negara.
Kita sering lupa bahwa kita yang tumbuh dan besar di daerah yang penuh panorama kehijauan banyak yang kurang mengapresiasikannya , justru mereka bahkan takjub akan padang pasir yang begitu gersang dan terik, kita baru sadar akan kekeringannya setelah hampir mati kehausan. Demikian pula kita yang tak pernah mnghargai kehidupan yang kita warisi namun justru kita lebih terpesona oleh fatamorgana yang ilusif.
Diamping itu kadang kita menafikan bahwa dunia ini bukan milikku pribadi pun bukan pula milikmu pribadi. Hidup ini pun bukan milikku pribadi dan bukan pula milikmu pribadi. TUHAN itu pun bukan jua milikku pribadi dan bukan juga milikmu pribadi. Oleh sebab itu barang siapa merasa semua itu miliknya pribadi, maka dia harus lahir sendiri dan dikala mati menggali lubang kuburnya serta menutupnya sendiri!, sebagaimana dipaparkan oleh seseorang yang amat sangat menghormati Prabhu Siliwagi itu.
Mengapa kita enggan belajar bahwa bunga yang berwarna – warni yang harum semerbak – mewangi, mereka tidak mau tumbuh sendiri akan tetapi harus berdampingan dengan dedaunan yang hijau, karena alam tahu akan keselarasan di antara mereka sendiri. Akan tetapi manusia selalu merasa dirinya yang harus dikedepankan dulu tanpa peduli dan sadar pentingnya kebersamaan, keseimbangan, keserasian untuk semuanya.
Maka Indonesia atau Nusantara ini sebagai bangsa timur tentu tak dapat ditata – laksanakan dengan agama saja kecuali harus senantiasa berpijak pada “philoshopie, religie & watenschap” (filosofi, agama dan iptek) yang merupakan tiga kesatuan berpijak yang telah dipaterikan dalam jiwa & ruh PANCASILA itu sendiri!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar