Rabu, 15 Februari 2012

PEMIKIRAN MODERN ISLAM DI TURKI


Pemikiran dan pembaruan Islam di Turki pada periode Modern dipimpin oleh banyak tokoh pemikir, antara lain Sultan Mahmud II, tokoh-tokoh Tanzimat, tokoh-tokoh pemikir Usmani mida, para pemikir Turki muda, tokoh-tokoh aliran Barat-Islam-Nasionalis dan Mustafa Kemal.

SULTAN MAHMUD II (1785-1839)
Sebagaimana di Mesir, pembaruan pemikiran di kerajaan Usmani dipelopori oleh raja. Jika di Mesir oleh Muhammad Ali Pasya, maka di Turki oleh Sultan Mahmud II.
Setelah kekuasaannya sebagai pemegang tampuk pimpinan Kerajaan Usmani bertambah kuat, Sultan Mahmud II merasa telah tiba saatnya untuk memulai usaha pembaruan yang memang telah lama ada di dalam pikirannya. Hal pertama yang menarik perhatiannya ialah pembaruan di bidang militer. Pasukan khusus Janissary yang di masa lalu menjadi tulang punggung kekuatan militer Usmani mulai lemah. Janissary banyak mengalami kekalahan.
Sultan Mahmud II melihat Janissary tidak lagi dapat diandalkan. Bahkan Janissary dianggap menghambat pembaruan di bidang militer. Karena itu pada musim semi tahun 1826, Mahmud II membentuk korp tentara baru yang diberi nama Muallem Eshkinji (pengawal terlatih). Korp itu dilatih oleh pelatih yang dikirim Muhammad Ali Pasya dari Mesir.
Sultan Mahmud II dikenal sebagai sultan yang tidak mau terikat pada tradisi. Tradisi aristokrasi ia langgar, ia mengambil sikap demokratis, pakaian-pakaian resmi para pejabat ia ganti dengan pakaian sederhana. Kekuasaan luar biasa yang menurut tradisi dimiliki oleh penguasa Usmani, ia batasi.
Ia juga mengadakan pembaruan dalam pemerintahan Kerajaan Usmani. Menurut tradisi, kerajaan Usmani dikepalai oleh raja yang memiliki kekuasaan duniawi dengan gelar sultan dan kekuasaan rohani dengan gelar khalifah. Dengan demikian raja Usmani mempunyai dua kekuasaan, yaitu kekuasaan memerintah Negara serta kekuasaan menyiarkan dan membela Islam. Sultan bersifat absolute dan rakyat tidak memiliki hak suara. Rakyat tidak dapat meminta pertanggung jawaban dari sultan karena sultan hanya bertanggung jawab kepada Tuhan. Dalam melaksanakan kedua kekuasaan itu, sultan dibantu oleh sadrazam untuk urusan pemerntahan dan syekh islam untuk urusan keagamaan. Kedua pejabat itu hanya pelaksana dan juga tidak memiliki hak suara.
Kedudukan sadrazam dihapus oleh Sultan Mahmud II dan diganti dengan jabatan perdana menteri. Kekuasaan yudikatif yang pada mulanya di tangan sadrazam dipindahkan ke tangan syekh islam. Yang di tangan syekh Islam itu hanya hukum syariat, sedangkan hukum sekuler ada di tangan Dewan Perancang Hukum. Sultan Mahmud II adalah orang pertama di Kerajaan Usmani yang memisahkan urusan agama dengan urusan dunia.
Sultan Mahnud II juga membuat perubahan dalam bidang pendidikan. Di madrasah biasanya hanya diberikan pengetahuan agama. Untuk memberikan pengetahuan umum di madrasah masih diarasakan belum mungkin. Karena itu, di samping madrasah ia mendirikan sekolah umum yang disebut sekolah pengetahuan umum. Disekolah itu diajarkan bahasa Perancis di samping bahasa Arab serta pengetahuan umum lainnya. Ia juga mendirikan sekolah militer, sekolah teknik, sekolah kedokteran, dan sekolah pembedahan. Ia juga mengirimkan siswa-siswa untuk belajar ke Eropa.
Untuk menyebarkan ide pembaruannya, Sultan Maahmud II menerbitkan surat kabar. Takvim-I Vekayi yang terbit pertama kali pada tahun 1831. Pembaruan yang dilakukan oleh Sultan Mahmud II menjadi dasar bagi usaha pembaruan di Kerajaan Usmani sesudahnya.

·         TOKOH-TOKOH TANZIMAT
Pelanjut usaha pembaruan yang dilakukan Sultan Mahmud II dikenal dengan nama Tanzimat. Menurut P.M Holt (ahli Turki modern),, kita tidak mungkin dapat memahami ide-ide pembaruan di Usmani tanpa memahami gerakan Tanzimat. Pemuka utama Tanzimat adalah Mustafa Rasyid Pasya. Mustafa Sami,, dan Mehmed Sadik Rifat Pasya.
Mustafa Rasyid Pasya (1.800) sependapat dengan Mustafa Sami bahwa kemajuan Eropa disebabkan oleh keunggulan mereka dalam ilmu dan teknologi, toleransi beragama, kemampuan melepaskan diri dari ikatan agama, dan karena adanya pendidikan universal bagi pria dan wanita.
Ditambahkan oleh Mehmed Sadik Rifat Pasya (1.1807) bahwa kemajuan Barat disebabkan suasana damai dan hubungan baik antara Negara-negara di Eropa. Kemakmuran Negara bergantung pada kemakmuran rakyat, dan kemakmuran rakyat dapat dicapai dengan menghilangkan pemerintahan yang absolute. Menghilangkan pemerintahan yang absolute dapat dilakukan dengan cara membuat undang-undang. Sultan dan para pejabat nrgara harus tunduk pada undang-undang. Atas usahanya dan dukungan Mustafa Rasyid Pasya sebagai menteri luar negeri. Pada 1839 dikeluarkan piagam Gulhane yang menjadi dasar piagam pembaruan-pembaruan di kerajaan Usmani. Salah satunya adalah pembaruan di bidang hukum. Kodifikasi hukum dimulai dengan sumber hukum, syariat, dan hukum Barat. Pada 1847, didirikan mahkamah-mahkamah baru untuk pidana dan sipil.
Pembaruan di bidang pemerntahan diadakan dengan cara mengajak rakyat untuk berpendapat tentang soal-soal Negara dan administrasi. Pembaruan di bidang keuangan berupa pendirian Bank Usmani (1840). Pendidikan umum dilepaskan dari kekuasaan kaum ulama dan diserahkan kepada kementrian pendidikan yang dibentuk pada 1847.
Pada 1856, diumumkan piagam baru yaitu Hatt-I Humayun yang lebih banyak mengadung pembaruan terhadap kedudukan orang Eropa yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani. Pembaruan lain dalam piagam ini ialah pengadaan anggaran belanja tahunan Negara, pembukaan bank asing, pemasukan modal Eropa ke kerajaan Usmani, undang-undang perdagangan, penghapusan hukum bunuh terhadap orang yang murtad dari Islam, dan pemasukan orang-orang non- Islam ke dalam Dewan Hukum.
Pembaruan setelah Piagam Humayun dipimpin oleh Ali Pasya (1815-1871) dan Fuad Pasya (1815-1869), keduanya adalah murid Mustafa Rasyid Pasya. Di bawah kepemimpinan mereka, diadakan penyempurnaan hukum pidana dan hukum maritime berdasarkan sumber hukum Perancis. Pada 1867, dikeluarkan undang-undang yang membolehkan orang asing memiliki tanah di Kerajaan Usmani. Dalam biang pendidikan, dibuka sekolah Galatasaray yang memberikan pendidikan umum dalam bahasa Perancis. Di sekolah itu siswa muslim dan non-muslim duduk berdampingan;suatu hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.
Pembaruan yang dilakukan Tanzimat tidak seluruhnya dihargai. Kritik yang diajukan ialah pembaruan itu mengandung paham sekularisme dan pemuka-pemukanya bersikap pro=Barat. Sikapp otoriter sultan dan para menteri dalam melaksanakan pembaruan juga mendapat kritik keras. Akan tetapi akhirnnya oposisi hilang, pemerintah bertambah absolute, sehingga hilanglah kebebasan berpikir dan bergerak. Pembaruan di Kerajaan Usmani pada zaman Tanzimat dapat dikatakan kurang berhasil.


TOKOH-TOKOH PEMIKIR USMANI MUDA
Zaman Tanzimat berakhir degan wafatnya Ali Pasya pada 1871. Sebagai perdana menteri, Ali pasya tidak menentang kekuasaan absolute Sultan Abdul Aziz, malah turut menindas pemikiran bebas. Golongan intelektual Kerajaan Usmani yang banyak menetang kekuasaan nama Usmani Muda.
Usmani muda berasal dari perkumpulan rahasia yang didirikan pada 1865 dengan tujuan mengubah pemerintahan absolute Kerajaan Usmani menjadi pemerintahan konstitusional. Setelah rahasia perkumpulan ini terbuka, maka pemuka-pemukanya lari dari Eropa pada 1867. Di sanalah gerakan mereka dikenal dengan nama Usmani muda. Tokoh pemikir Usmani muda yang dibicarakan berikut ialah Ziya Pasya dan Namik Kemal.
Salah satu pemuka Usmani muda adalah Ziya Pasya (1825-1880). Menurut pemikirannya, agar dapat digolongkan sebagai Negara maju, Kerajaan Usmani harus menganut pemerintahan yang konstitusional. Negara-negara Eropa maju karena di sana tidak ada lagi pemerintahan absolute, kecuali Rusia. Selanjutnya, ia menyebutkan bahwa dalam pemerintahan konstitusional itu harus ada Dewan Perwakilan Rakyat. Pihak istana justru takut akan dewan-dewan tersebut akan menghancurkan kekuasaan sultan.
Ziya Pasya berpendapat bahwa pembaruan di Turki tidak perlu meniru Barat dalam segala hal. Melainkan cukup mengambil yang diperlukan saja, yang berlawanan dengan ajaran Islam tidak usah diambil. Meurut pendapatnya, Islam bukan merupakan penghambat kemajuan.
Tokoh kedua ialah Namik Kemal (1840-1888). Pemikirannya banyak dipengaruhi  oleh Ibrahim Sinasi yang menerbitkan surat kabar Tasvir-I Efkar. Ketika Sinasi lari ke Paris pada 1865, pimpinan surat kabar ini dipegang oleh Namik Kemal.
Sebagaimana Ziya Pasya, Namik Kemal juga memiliki jiwa keislaman yang baik. Ia pun tidak menyetujui Barat dalam segala hal. Ide-ide barat ia terima dengan terlebih dahulu disesuaikan dengan ajarann Islam. Ide itu pulalah yang menyebabkannya menjadi pengeritik keras pembaruan Tanzimat.
Penyebab kemunduran kerajaan Usmani menurut pendapatnya ialah keadaan ekonomi dan politik yang tidak beres. Untuk menyelesaikan masalah ini, jalan pertama yang harus ditempuh adalah mengubah sistem pemerintahan absolute menjadi pemerintahan konstitusional. Kedaulatan harus berada di tangan rakyat. Piagam Gulhane dan Piagam Humayun sudah baik tetapi belum merupakan konstitusi yang memisahkan antara kekuasaan eksekutif, legislative, dan yudikatif. Yang dikehendakinya ialah pemerintahan demokrasi, dan menurut pendapat Namik Kemal, pemerintahan seperti itu tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Sistem baiat yang terdapat dalam pemerintahan sistem kekhalifahan meurutnya mempunyai corak demokrasi.
Ide Namik Kemal yang lain ialah ide cinta tanah air. Tanah air yang ia maksud adalah seluruh wilayah Kerajaan Usmani. Ia juga meghendaki persatuan seluruh umat Islam di bawah pimpinan Kerajaan Usmani sebagai Negara Islam terbesar ketika itu. Persatuan yang dimaksud ialah pan-islamisme.
Tantangan terhadap ide konstitusi datang dari Abdul Hmid yang ingin mempertahankan hak-hak sultan dan dari syekh al-islam yang berpendapat bahwa Kerajaan Usmani belum matang untuk menerima sistem konstitusional.
Tidak mengherankan jika dalam situasi seperti itu yang tersusun bukanlah konstitusi yang bersifat demokratis melainkan semi-demokratis. Konstitusi semi-demokratis ini ditandatangani pada 23 Desember 1876. Dalam konstitusi itu disebutkan bahwa kedaulatan terletak di tangan sultan,, sultan itu suci, sultan berhak menangkap dan mengasingkan orang-orang yang dianggap berbahaya bagi Negara. Dengan tiga kekuasaan itu saja konstitusi justru memperkuat absolutism sultan. Konstitusi 1876 menunjukkan bahwa ide Usmani muda tentang perlunya konstitusi memang berhasil tetapi mereka gagal membatasi kekuasaan absolute sultan. Yang terjadi malah sebaliknya, kekuasaan absolute sultan membubarkan parlemen konstitusi pada 1878, tindakan itu diambil berdasarkan konstitusi. Ide konstitusi Usmani muda sebenarnya gagal.
PARA PEMIKIR TURKI MUDA
Para pemikir Turki Muda ialah Ahmad Riza (1859-1931), Pangeran Sabahuddin (1877-1948), dan Mehmed Murad (1853-1912).
Sekembalinya dari Perancis, Ahmad Riza bekerja di kementrian pertanian. Karena sensor begitu ketat, ia tidak dapat menyiarkan pemikirannya dalam surat kabar atau buku. Karena itu ia pergi lagi ke Perancis. Disana ia bekerja sama dengan para pemimpin.
Pemikiran yang sudah lebih dahulu lari ke Perancis. Di Paris ia menerbitkan surat kabar Mesveret.
Menurut Ahmad Riza, untuk menyelamatkan Kerajaan Usmani dari keruntuhan diperlukan pendidikan dan ilmu positif, bukan teologi dan metafisika. Pelaksanaan sistem pendidikan yang baik memerlukan pemerintahan konstitusional. Pemerintahan konstitusional tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, karena dalam Islam terdapat ajaran musyawarah.
Di Paris, Pangeran Sabahuddin dipengaruhi oleh teori-teori sosiologi. Problem yang dihadapi Kerajaan Usmani ia tinjau dari kaca mata sosiologi. Masyarakat Turki adalah masyarakat kolektif. Masyarakat kolektif sulit berubah, tidak percaya diri, karena itu tidak dapat berdiri sendiri, senantiasa bergantung kepada kelompoknya. Menurut pangeran sabahuddin, selama masyarakat TUrki masih bersifat kolektif, sultan akan tetap mempunyai kekuasaan absolute. Untuk mengubah keabsolutan itu senantiasa corak masyarakat masih kolektif. Ia menganjurkan diadakannya desentralisasi pemerintahan. Selanjutnya ia berpendapat bahwa jalan paling tepat untuk mengubah masyarakat kolektif menjadi masyarakat individualis adalah pendidikan. Sementara Ahmad Riza menerbitkan majalah Terekki, Sahabuddin juga menerbitkan majalah Mizan.
Mehmed Murad mencoba menasehati sultan untuk mengadakan perubahan sistem pemerintahan. Nasihatnya ditolak dan akhirnya is terpaksa lari ke Eropa. Sebagaimana tokoh-tokoh pemikir Islam lain, Murad juga berpendapat bahwa penyebab kemunduran kerajaan Usmani ialah kekuasaan sultan yang absolute. Karena sultan tidak setuju dengan adanya konstitusi, maka ia mengusulkan agar dibentuk badan pengawas yang bertugas menjaga agar undang-undang tidak dilanggar.
Mehmed Murad penganut ide pan-islamisme. Menurutnya, salah satu sebab kemunduran Usmani ialah renggangnya hubungan antara Istanbul dengan daerah-daerah lain yang dikuasai TUrki.
Di antara ketiga tokoh itu terdapat perbedaan pandangan politik, tetapi mereka sepakat untuk menggulingkan sultan Abdul Hamid. Keputusan ini diambil setelah dua kali konferensi di Eropa, yang terakhir pada tahun 1907.
Di tanah air, gerakan golongan militer dan komite-komite rahasia mulai meningkat. Yang terkenal di antara semua komite itu ialah Perkumpulan Persatuan dan Kemajuan. Pada 1908, Batalion II dan  III mulai memberontak. Tentara di Salonika, Monastiri, dan Anatolia turut memberontak. Dalam kondisi demikian, perkumpulan Persatuan dan Kemajuan muncul ke permukaan secara teranng-terangan. Kedudukan Turki Muda dalam pemerintahan memang tidak kuat. Kesempatan ini digunakan Sultan Abdul Hamid untuk mengembalikan kekuasaannya. Tetapi Enver Pasya dengan Batalion III masuk Istanbul dan merampas kekuasaan. Sultan Abdul Hamid jatuh pada 1909 dan digantikan oleh saudaranya Sultan Mehmed V.
Perkumpulan persatuan dan kemajuan memenangkan pemilihan umum pada 1912. Mereka menguasai parlemen. Setahun kemudian, golongan militer dari perkumpulan persatuan dan kemajuan menggantikan golongan politisi. Kekuasaan terletak di tangan tiga serangkai, Enver Pasya, Talat Pasya, dan Jamal Pasya.
Pemerintahan tiga serangkai merupakan pemerintahan militer yang ketat dan tidak mau menerima kritik. Partai-partai oposisi mereka bubarkan. Dalam Perang Dunia I mereka membawa Kerajaan Usmani menjadi sekutu Jerman. Kekuasaan mereka hancur bersamaan dengan kekalahan Jerman dalam prang itu. Perkumpulan persatuan dan kemajuan membubarkan diri, tokoh-tokohnya lari ke luar negeri.
TOKOH ALIRAN BARAT-ISLAM-NASIONALIS
Dari uraian terdahulu diketahui bahwa ada tiga aliran pemikiran modern di TUrki mengenai pembaruan. Kedua, aliran Islam yang mengatakan bahwa dasar pembaruan haruslah Islam. Ketiga, aliran nasionalis yang menghendaki nasionalisme TUrki sebagai dasar pembaruan.
Kesadaran nasionalisme Turki di kerajaan Usmani baru timbul pada abad ke-19. Pada mulanya, agamalah yang membedakan antara rakyat yang beraneka ragam kebangsaannya itu. Rakyat dikelompokkan menurut Agama, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Pada akhir abad ke-18, kesadaran nasionalisme mulai mempengaruhi bangsa-bangsa Eropa timur yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani. Mereka mulai bergerak menuntut kemerdekaannya. Dari sini kesadaran akan adanya perbedaan bangsa dalam masyarakat Turki mulai timbul.
Usmani muda mencoba mempertahankan keutuhan Kerajaan Usmani dengan memunculkan ide Usmanisme. Memang banar, orang Barat di Eropa timur berbeda dengan orang TUrki dalam hal agama dan bangsa, tetapi keduanya adalah rakyat dari satu Negara. Ide Usmanisme tidak berhasil, diganti dengan ide Islamisme. Semua rakyat yang beragama Islam, keturunan Turki, Arab, dan lain-lain yang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Usmani merupakan satu nasionalitas. Ide ini juga tidak dapat terwujud. Maka munculah pan-turanisme atau pan-turkisme. Semua orang TUrki, baik yang berada di bawah kekuasaan Rusia di Kazan, Krimea, dan Azerbaijan, merupakan satu bangsa. Ide ini pun gagal mencapai tujuannya. Mak timbulah ide Nasionalisme Turkki. Orang0orang TUrki yang berada di Kerajaan Usmani merupakan satu nasionalitas. Ide Nasionalisme ini sudah mulai terdapat di dalam pemikiran Zia Gokalp (1875-1924).

MUSTAFA KEMAL (1881-1938)
Usai perang Dunia I, di mana Turki bersekutu dengan Jerman yang dinyatakann kalah, cabinet Turki muda mengundurkan diri. Talat Pasya, Enver Pasya, dan Jamal Pasya lari ke Eropa. Perdana menteri baru, Ahmed Izzet Pasya berdamai dengan pihak pemenang. Tentara sekutu masuk dan menguasai bagian-bagian tertentu kota Istanbul. Sementara itu tentara Yunani mendarat di Izmir pada 15 Mei 1919 dengan bantuan kapal perang Inggris, Perancis, dan Amerika. Ini menimbulkan amarah dan membangkitkan semangat rakyat Turki untuk membela tanah airnya. Dalam suasana seperti itulah muncul Mustafa Kemal. Ialah pencipta Turki modern dan atas jasanya itu ia diberi gelar Attaturk (Bapak TUrki).
Mustafa Kemal bersama teman-temannya pernah membentuk suatu komite rahasia dan menerbitkan surat kabar tulisan tangan yang mendukung kritik terhadap pemerintahan sultan. Dalam Perang Dunia I ia menjadi panglima Divisi 19. Atas keberaniannya dalam pertempuran, pangkatnya dinaikkan dari colonel menjadi jenderal,, ditambah dengan gelar Pasya.
Atas usaha Mustafa Kemal dan teman-temannya, pada 1920 dibentuklah Majelis Nasional Agung. Secara perlahan-lahan Mustafa Kemal dan teman-temannya dari golongan nasionalis dapat menguasai situasi sehingga akhirnya sekutu terpaksa mengakui mereka sebagai Penguasa TUrki secara de facto dan de jure. Pada 1923 ditandatangani perjanjian Lausanne, dan pemerintahan Mustafa Kemal mendapat pengakuan internasional.
Dalam hal pembaruan, pemikiran Mustafa Kemal dipengaruhi ide golongan nasionalis Turki dan ide golongan Barat. Menurutnya Turki hanya dapat maju dengan meniru Barat. Setelah perjuangan kemerrdekaan selesai perjuangan baru dimulai,, yaitu perjuangan memperoleh dan mewujudkan peradaban Barat di TUrki dan semua kegiatan reaksioner harus dihancurkan.
Ide nasionalisme yang diterima Mustafa Kemal ialah ide nasionalisme TUrki yang terbatas daerah geografisnya, bukan ide nasionalisme yang luas. Westernisasi, sekularisasi, dan nasionalisme terbatas itulah dasar pemikiran Mustafa Kemal.
Pembaruan pertama ditujukan terhadap bentuk Negara. Di sini harus diadakan sekularisasi. Dalam siding Majelis nasional agung pada 1922, Mustafa kemal mengusulkan agar jabatan sultan dihapuskan. Usul ini diterima majelis. Dengan demikian raja TUrki hanya memegang jabatan khalifah yang tidak mempunyai kekuasaan duniawi, melainkan hanya kekuasaan spiritual. Sekarang kedaulatan berada di tangan Majelis Nasional agung dan kekuasaan eksekutif di tangan majelis Negara. Pada Oktober 1923, Majelis Nasional Agung menetapkan bahwa Negara berbentuk republic Turki adalah Islam. Mustafa Kemal menjadi presiden republik itu.
Sementara itu, Abdul Majid masih menjadi khalifah. Pada 3 Maret 1942, majelis memutuskan penghapusan jabatan khalifah. Usah Mustafa Kemal selanjutnya ialah menghilangkan konstitusi 1921. Ini terjadi pada 1928. Negara tidak ada lagi hubungannya dengan agama. Sembilan tahun kemudian,, yaitu setelah prinsip sekularisme masuk konstitusi 1937, barulah Republik Turki resmi menjadi Negara sekuler. Tetapi pada 1940, imam-imam tentara mulai bertugas lagi di Angkatan bersenjata Turki. Pada 1949, pendidikan Agama masuk kembali dalam kurikulum sekolah. Setahun kemudian pendidikan Agama diwajibkan.

Tidak ada komentar: